LESBOS, KOMPAS. com – Pencari perlindungan Afghanistan mengutarakan kekhawatiran tentang teman dan keluarga pada rumah setelah langkah lekas Taliban untuk menguasai Afghanistan.

“Ini bencana, ” kata Elena dengan tinggal di sebuah pengasingan migran Afghanistan di pulau Lesbos Yunani.

“Apa yang akan berlaku sekarang di Afghanistan untuk generasi muda? Untuk anak-anak? Untuk hak-hak perempuan? Segenap dihancurkan oleh Taliban, ” kata wanita berusia 21 tahun, yang menolak menuturkan nama belakangnya, kepada Reuters pada Selasa (17/8/2021).

Baca juga: Kekhawatiran Rusia hingga China Sesudah Kembalinya Taliban di Afghanistan

Elena adalah salah satu dibanding sekitar 500 pencari perlindungan Afghanistan dan aktivis lokal yang ambil bagian pada protes Senin malam (16/8/2021), mengangkat bendera besar Afghanistan dan duduk di depan spanduk bertuliskan: “Kami mengatakan tidak kepada Taliban. ”

Taliban membutuhkan waktu lebih dari seminggu untuk menguasai Afghanistan sesudah serangan kilat yang sudah di Kabul. Sementara rombongan pemerintah, yang dilatih selama bertahun-tahun dan dilengkapi sebab Amerika Serikat dan lainnya, menghilang.

Para militan berusaha menampilkan paras yang lebih moderat, berniat untuk menghormati hak hawa dan melindungi orang.

Dapatkan fakta, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tapi banyak orang Afghanistan takut Taliban akan kembali ke praktik keras dari pemerintahan 1996-2001 mereka. Pada masa tersebut, perempuan tidak diizinkan untuk bekerja dan hukuman serupa rajam di depan umum diberlakukan.

Pengalaman mengerikan masa tiga tarikh pemerintahan kelompok ekstremis itulah yang menjadi alasan kenapa warga Afghanistan takut secara Taliban.

Dalam Lesbos, di mana ada sekitar 2. 500 warga Afghanistan, para pengunjuk mengecap berbagi ketakutan itu. Total pengungsi Afghanistan itu setidaknya mencapai setengah dari total migran di tanah itu, menurut kementerian pada negeri Yunani.

“Semua orang Afghanistan menangis. Aku berharap dari dunia, tolong dukung Afghanistan, jangan biarkan orang Afghanistan sendirian, ” kata Elena, yang membantu mengorganisir aksi protes.

Baca juga: Kondisi Afghanistan Sekarang Bakal Menguji Perdamaian di Asia Selatan

Yunani, dan Lesbos khususnya, telah menjadi pada garis depan kedatangan migran ke Uni Eropa (UE) selama bertahun-tahun.

Pihak berwenang, yang merusuhkan kedatangan gelombang baru migran dengan jatuhnya Afghanistan ke tangan Taliban, mendorong UE mengorganisir rencana tanggapan.

Tetapi bagi Elena, masalah yang paling mendesak adalah nasib mereka dengan tetap tinggal di Afghanistan.

“Perempuan Afghanistan tidak bisa mendapat pelajaran. Perempuan tidak bisa muncul rumah, mereka harus status di rumah karena itu tidak merasa aman. Aku punya teman di Afghanistan, mereka panik, mereka tidak tahu apa yang bisa mereka lakukan, ” ujarnya.

Mengaji juga: Rusia Enggan Terburu-buru Akui Taliban sebagai Penguasa Afghanistan