PYONGYANG, KOMPAS. com – Pandemi Covid-19 hanya membuat Korea Mengetengahkan semakin tertutup dan para analisis melihat itu jadi momen memperkuat kesetiaan di dalam rezim.

Negara komunis yang dipimpin Kim Jong Un ini telah menyekat diri jauh sebelum Covid-19 menjadi epidemi, mendoronganya menjadi negara miskin ketika mendapat berbagai sanksi internasional arah kepemilikan program senjata nuklir dan rudal balistik.

Kekurangan pangan biut yang telah dialami masyarakatnya sejak lama.

Baca selalu: Terkendala Diskusi, Pengiriman Vaksin ke Korea Utara Balik Ditunda

“Pyongyang berada dalam pengganggu jauh sebelum pandemi, ” demikian kata Soo Kim, mantan analis CIA dengan sekarang bekerja di RAND Corporation, seperti yang dilansir dari AFP pada Rabu (9/6/2021).

“Pandemi virus corona menambah tantangan sistemik, kelembagaan, dan ekonomi yang ada, ” ucapnya.

Terima kasih telah membaca Kompas. com.
Dapatkan informasi, inspirasi serta insight di email kamu.
Daftarkan email

Korea Utara adalah negara dengan memberlakukan lockdown Covid-19 teliti dengan menutup perbatasannya pada Januari 2020, untuk mendiamkan penyebaran virus dari China.

Selama itu, Pyongyang berulang kali meminta pihaknya belum melihat kepala pun kasus Covid-19. Banyak para analis yang tidak percaya pernyataan itu.

Namun, Kim Jong Un mengakui kesulitan rakyatnya karena pembatasan Covid-19 menjelma sangat ketat. Sehingga, pemerintah memperingatkan mereka untuk menyala keras dalam “situasi terburuk” saat ini.

Baca juga: Ratusan Anak Yatim Piatu Korea Utara, Diklaim Secara “Sukarela” Jadi Pekerja Kasar

Perdagangan dengan China, jalur kehidupan ekonomi Korea Utara, menjadi menurun drastis selama lockdown ketat.

Saat pintu pinggiran dibuka kembali, bea China menunjukkan Korea Mengadukan mengimpor barang mencapai 29 juta dollar AS (Rp 413, 6 miliar) di dalam April.