RIO DE JANEIRO, KOMPAS. com – Regulator kesehatan Negeri brazil menolak permintaan beberapa negeri bagian untuk mengimpor hampir 30 juta dosis vaksin Sputnik V Rusia. Masalah keamanan disebut menjadi bukti kebijakan itu.

Keputusan ini menimbulkan anggapan keras dari Rusia, yang langsung melontarkan kritik kepada regulator “Negeri Samba. ”

Mengucapkan juga: Dibanjiri Kritik sebab Beli Vaksin Sputnik V, PM Slowakia Mengundurkan Muncul

Badan Pengatur Kesehatan Brasil yang beranggotakan lima karakter dengan suara bulat memutuskan Senin malam (26/4/2021), kalau kurang ada data dengan konsisten dan dapat dipercaya, untuk menyetujui permintaan dibanding 10 negara bagian, taat sebuah pernyataan melansir AP.

Empat negeri bagian dan dua praja lainnya juga telah menodong izin untuk mengimpor vaksin.

Badan tersebut, yang dikenal sebagai Anvisa, mengatakan ada kesalahan di semua studi klinis pengembangan vaksin Sputnik V, dan data tidak tersedia atau tidak cukup.

Menurut Anvisa, analisis membuktikan bahwa “adenovirus” yang menjadi dasar vaksin Sputnik V memiliki kapasitas untuk bereplikasi. Ini dapat menyebabkan penyakit atau kematian, terutama di antara mereka yang mempunyai kekebalan rendah atau urusan pernapasan.

“Kami tidak akan pernah mengizinkan, tanpa bukti dengan diperlukan, jutaan orang Brasil terpapar produk tanpa keterangan kualitas, keamanan, dan kemanjurannya atau, setidaknya, dalam menghadapi situasi gawat yang kita jalani sekarang, demi masalah dampak atau manfaat, ” kata presiden Anvisa Antônio Barra Torres dalam pernyataannya.

Dana Rusia yang mengawasi pemasaran vaksin secara global membantah permintaan tersebut.

Baca juga: Survei YouGov: Rusia Produsen Vaksin Tepercaya, Sputnik V Paling Dikenal

Keputusan Anvisa tidak memengaruhi seruan terpisah dari perusahaan Brasil Uniao Quimica untuk otorisasi penggunaan darurat Sputnik V yang diproduksi secara lokal, menurut pernyataan yang dikirim melalui email dari biro pers Anvisa.

Namun, itu menjadi pukulan bagi upaya Rusia buat mempromosikan vaksinnya di semesta dunia. Ekspornya telah membangun “Negara Beruang Putih” memperoleh kembali pijakan diplomatik, pada negara-negara yang hubungan telah merosot.